cerpen ( uprak b.indo )
Me
n ur ghost
Terinspirasi dari lagu Taylor Swift yang berjudul
Enchanted.
Tema
: Persahabatan. Childhood friends
Nama : eleonora
adinda wulan hapsari
Kelas : 9A
No Absen : 12
Rendi
menatap bocah lelaki di sampingnya yang
berjongkok, matanya tampak merah membengkak,
suara sesenggukan terdengar samar – samar dari bocah lelaki itu, ia memberanikan dirinya
mendekati bocah lelaki itu dan berusaha menghiburnya “Udah cupcupcup jangan
nangis ada aku disini, kamu udah gapapa kok.” Ucap Rendi, “Omong-omong nama kamu
siapa ? kenalin aku Rendi.”
Rendi mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan bocah lelaki itu, suara
lirih keluar dari mulut bocah itu, “Eh siapa ? enggak kedengaran… suaramu kecil
sekali.” “Nathan!” tiba –
tiba bocah itu berdiri dan meneriakan namanya, membuat Rendi terkejut dan
kehilangan keseimbangannya lalu jatuh terduduk di tanah, menatap Nathan yang
terlihat merasa bersalah, hening. Tawa Rendi memecah kecanggungan di antara
mereka, “Kalau begitu, salam kenal Nathan! Semoga kita bisa jadi teman baik!”
Rendi
mengingat kembali waktu pertama kali dirinya mengenal Nathan, yang sekaligus kakak kelasnya sekarang, dulu ia adalah anak
yang membantu Nathan saat ia dibully, dan ia juga ingat bahwa karena hal itu
Rendi
bisa mengenal Nathan, terkadang Rendi
bersyukur karena anak – anak yang membully Nathan, ia bisa mengenal Nathan
sampai sekarang, ada sesuatu yang mengganjal Rendi, mulai dari seminggu yang lalu,
Rendi tidak melihat Nathan di sekolah, ia pikir mungkin Nathan sakit jadi ia menjenguknya
sepulang sekolah, tetapi anehnya dirumah Nathan tidak ada siapapun, Rendi berfikiran
untuk menghubunginya dan menanyakan keadaannya, saat ia mencoba untuk
menghubunginya di segala waktu,
ponsel Nathan selalu tidak aktif, Rendi khawatir Nathan memiliki penyakit yang
parah, ia mencoba menghubungi nenek Nathan, neneknya pun juga sulit
dihubungi, Rendi merasa Nathan menjauhi
dirinya, tapi mengapa ? Rendi sudah mengenal Nathan dari kecil, Nathan
tidak memiliki orang tua, Nathan hanya menceritakan bahwa ibunya wafat karena
sebuah penyakit, sementara ayahnya ? Entah… Rendi tidak pernah mendengar Nathan
membicarakan
ayahnya, dan Rendi rasa ia juga tidak memiliki hak untuk menanyakan hal pribadi
seperti itu. Pikiran Rendi ter-pecah saat tiba – tiba temannya memanggil untuk
pergi ke kantin.
“Ren, tadi lo dikelas ngelamunin apaan sih ?”
Tanya Angga yang sedang menambahkan sambal ke mangkuk bakso nya, “Personal things.”
Rendi mencomot kerupuk udangnya, “Is it
about your upperclassman, Nathan ?” Arga yang sedang mengaduk mie ayamnya
menatap Rendi yang mengangguk pelan, Angga hanya bisa
menatap Rendi dan Arga bergantian bingung dengan apa yang mereka bicarakan, “Ngomong
nganggo basa Indo, ojo nganggo Inggris lho, aku ra ngerti.” Angga nyeletuk
menggunakan bahasa daerah nya yang membuat Rendi tertawa pelan, “Yo makane kowe
tuh belajar, ojo males.” Arga sebagai kembaran Angga memukul pelan bahu
kembarannya tersebut, “Iyo iyo, emang e ngomongin siapa toh ? kakel mu ?” Angga
memakan bakso nya, dan menatap Rendi yang mengamati rombongan kakak kelas nya
memasuki area kantin, netranya sibuk
mencari – cari orang, nihil. Hari ini pun Nathan tidak masuk sekolah, “Ren, lo udah coba tanya sama temen sekelasnya kak
Nathan ?”
Setelah
bel pulang berbunyi Rendi langsung ke kelas Nathan untuk menanyakan keadaan Nathan
pada teman sekelas nya, “Permisi kak, saya boleh nanya sebentar?” Rendi
mendekati lelaki berkulit sawo matang dan tinggi yaitu Yoga, “Oh boleh kenapa?
Kamu Rendi ya ?” Rendi menganggukan kepalanya walau ia agak bingung bagaimana
kakak kelas nya tau namanya, ia menggunakan hoodie
yang otomatis menutup seluruh seragam atas nya, jadi nama nya pasti tidak
akan terlihat, “Nathan mau ngasih ini ke kamu.” Yoga menyodorkan barang yang
dimaksudkan nya tadi, sebuah kaset dan amplop.
Sesampainya
di rumah Rendi pergi menuju kamarnya dan menyetel kaset yang diberi Yoga, pada
detik pertama muncul Nathan sedang duduk di pinggir kasurnya dan tersenyum ke arah
kamera, “Halo Rendi, aduh saya harus
mulai dari mana ya…” suara Nathan terdengar dari arah TV yang menyetel
kaset tadi, Nathan tertawa pelan dan terlihat menyentuh leher bagian
belakangnya, Rendi tersenyum kecil melihat kakak kelas nya, ia tidak sadar
bahwa dirinya begitu merindukan senyum Nathan, “Apa kabar Rendi saya harap kamu baik – baik saja, keadaan saya bisa di
bilang cukup baik untuk sekarang, omong – omong saya merekam video ini pada
hari ulang tahun mu, alasan saya tidak bisa datang karena saya sekarang membuat
video ini.” Rendi mengingat benar tahun kemarin memang Nathan tidak datang
ke acara ulang tahunnya, “Mungkin kamu
akan menonton video ini saat saya sudah ada di dunia lain,” Deg!
Rendi merasakan aliran darah nya mengalir cepat di sekujur tubuhnya, “Ren, kamu ingat waktu saya cerita kalau Ibu
saya meninggal karena penyakit ? Sekarang saya sedang mengidap penyakit yang
sama dengan Ibu saya dulu, ALS, penyakit saraf motorik.” Rendi langsung mencari tahu tentang penyakit ALS di internet, netranya
terpaku pada sebuah tulisan ‘treatment
can help, but this condition can’t be cured’ penyakit Nathan tidak bisa di
sembuhkan, ketakutan terbesar Rendi sekarang menjadi kenyataan.
Rendi
buru – buru membuka amplop yang diberikan oleh Yoga bersamaan dengan kaset
tadi, mata nya langsung melekat pada alamat Rumah Sakit yang merawat Nathan. Saat
pertama kali masuk ke kamar yang di tempati Nathan, netra Rendi segera
mendapatkan orang yang selama ini di cari – carinya, Nathan duduk di kasur nya
sedang mengamati langit lewat jendela di sampingnya, mendengar orang memasuki
kamarnya, Nathan menengok ke arah suara pintu yang dibuka dan mendapati diri
nya berada di pelukan seseorang, “Kak… kenapa ?” Suara Rendi bergetar karena
menahan tangis, seluruh emosi nya kini bercampur aduk, Nathan hanya bisa
tersenyum simpul.
Rendi
selalu berfikir bahwa dunia memang tidak adil,
sebulan setelah Rendi bertemu Nathan, kini Nathan sudah berada di tempat
yang lebih baik, baguslah. Pikir Rendi, kini Nathan tidak harus merasakan sakit
terus – menerus lagi, tapi rasa kehilangan yang di rasakan Rendi betul – betul
dalam. Setiap pulang sekolah Rendi selalu menyempatkan dirinya untuk pergi ke
tempat peristirahatan terakhir Nathan, ia merasa nyaman di tempat tersebut, ia
merasa Nathan ada di sampingnya. Rendi senang ia bisa mengenal sosok Nathan,
dan ia berharap agar di kehidupan lain ia bisa di pertemukan kembali dengan kakak
kelas nya tersebut.
“All I can say is I was enchanted to meet
you.”
The end
Komentar
Posting Komentar